Liputan6.com, Jakarta – Banyak orang merasa bosan menjadi pekerja kantoran. Alasannya, tak ingin di bawah perintah dan ingin mandiri. Tak heran, dewasa ini banyak para pekerja kantoran yang hijrah dan kemudian membangun sebuah usaha.

Untuk membangun bisnis bukan hal yang susah, tetapi juga tidak semudah membalik telapak tangan. Di berbagai buku maupun artikel di internet, terdapat banyak langkah memulai bisnis.

Tulisan ini mencoba sedikit menyumbang pemikiran tentang langkah memulai bisnis juga. Tentu saja, dalam tulisan ini mencoba memberikan ide membangun bisnis yang bisa dilakukan semua orang.

Dikutip dari Laruno, Minggu (18/6/2017), berikut 6 langkah membuka bisnis yang semua orang bisa lakukan:

1. Mulai dengan berjualan produk orang lain

Kalau bicara bisnis, bicara startup, atau menjadi entrepreneur, yang ada di benak sebagian besar kita adalah bikin produk sendiri yang keren, punya kantor atau PT sendiri, punya kemampuan teknis lalu melayani klien, dan sejenisnya.

Ternyata paradigma memulai bisnis pertama kali dengan model seperti di atas itu salah. Berdagang juga adalah merupakan bisnis, dengan cara yang paling sederhana ambil barang dari supplier, tambahkan keuntungan, jual lagi.

Saking sederhananya, ini bisa dilakukan oleh yang belum punya modal uang banyak, belum punya ilmu atau pengalaman bisnis, dan belum network bisnis.

2. Tentukan pasar

Langkah berikutnya adalah memulai dari market atau pasar atau siapa yang ditargetkan akan membeli produk kita. Jangan mulai dari “produk apa yang bagus ya” tapi mulailah dari “siapa mau beli produk apa ya“. Produk bagus tapi tidak ada yang beli, percuma.

Di langkah ini kita tinggal melihat sekeliling kita, lalu lihat kesamaan mereka dalam hal kebutuhan mereka yang mendesak. Paling mudah ya benar-benar lingkungan terdekat kita, misalnya di sekitar kantor.

Lalu kita merasakan, bahwa teman-teman kita di kantor itu butuh banget camilan tapi malas keluar kantor. Kita bisa buka bisnis kecil–kecilan menjual camilan.

Berarti, target market kita adalah orang-orang kantoran, dengan masalah atau kebutuhan makan ringan untuk menemani kerja. Atau di contoh kedua target market cewek-cewek dengan umur di kisaran 20 tahun, dengan kebutuhan baju dan sepatu.

3. Cari supplier

Langkah berikutnya adalah mencari supplier alias siapa yang menjual produk tersebut untuk kita jualkan lagi. Bagaimana cara mencari supplier? Tidak susah kok, gunakan Google. Cari saja dengan keyword reseller  atau dropship atau agen atau distributor. Di Kaskus sendiri sudah ada sub-forumnya: Penawaran kerja sama, BO, Distribusi, Reseller dan Agen.

Kalau ada beberapa pilihan supplier untuk satu produk yang sama atau sejenis, kita tinggal membanding-bandingkan saja mana yang meyakinkan, mana yang pelayanannya bagus, dan sebagainya.

Dalam proses mencari supplier dan membeli di mereka, kita akan merasakan pengalaman berjualan dan berbelanja sekaligus. Jadi, kalau kita masih awam banget dengan cara berjualan atau berbisnis termasuk melayani pelanggan, kita bisa meniru cara supplier dalam berjualan dan kita melayani kita sendiri.

4. Lihat perilaku pembeli

Kalau kita merasa sudah promosi maksimal tapi tidak ada yang beli, berarti produk itu tidak tepat untuk target market yang kita pilih, atau target market terlalu sempit sehingga sedikit yang mau beli. Kita bisa revisi target market atau revisi produk yang kita jual.

Tapi kalau produk yang kita pilih itu tepat dengan target market yang sudah kita tentukan, akan ada pembelian demi pembelian terjadi. Kalau kita puas berbelanja di suatu toko atau warung, kita tentu akan belanja lagi di sana dan menjadi langganan mereka bukan?

Begitu pula di bisnis kita, fokus kita haruslah menjaga pelanggan agar tetap loyal dan membeli lagi (jadi repeat buyer atau customer). Soalnya, mencari pelanggan baru itu jauh lebih sulit dibandingkan dengan mempertahankan pelanggan lama.

5. Fokus di produk paling laris dan naik fokus

Saatnya naik kelas, dari menjadi reseller untuk jualan eceran ke orang per orang, menjadi distributor atau supplier untuk jualan ke reseller. Ada perubahan strategi harga di sini yang memberikan kita untung lebih sedikit per produknya aja, tapi secara keseluruhan jadi jauh lebih menguntungkan buat kita.

Jika harga produk eceran misalkan Rp 50 ribu dan kita membeli di supplier harganya Rp 30 ribu, kita dapat untung Rp 20 ribu per produk. Kalau kita sudah jadi distributor, harga beli kita secara grosir ke produsen misalnya Rp 20 ribu, dan kita jual Rp 30 ribu. Untungnya Rp 10 ribu per produk.

Kalau jualan eceran, katakanlah kita bisa menjual 100 barang per bulan, artinya keuntungan kita Rp 20 ribu x 100 = Rp 2 juta per bulan. Kalau kita jual ke reseller dan 1 reseller menjual 100 barang per bulan, keuntungan kita jadi cuma Rp 10 ribu x 100 = Rp 1 juta per bulan. Tapi, bagaimana kalau kita punya 2 reseller? Jadi Rp 2 juta per bulan kan? Kalau 5? Kalau 10? Punya reseller ibarat punya cabang. Pasar yang dijangkau bisa jauh lebih luas dibandingkan jualan dari satu toko aja.

Di fase ini, kita harus membeli stok dalam jumlah banyak, tapi kita jangan takut produk kita tidak terjual, karena kita sudah membuktikan produk yang kita stok banyak ini memang yang paling laris.

6. Ulangi lagi untuk jenis produk baru

Selesai. Pada titik ini, bisnis penjualan kamu sudah bisa berjalan sendiri dengan adanya karyawan yang membantu, dan kamu bisa mengulang langkah ini untuk membuka bisnis yang baru dengan market yang baru.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here