Liputan6.com, Jakarta Tata laksana ibadah Umrah memang lebih singkat daripada naik haji. Akan tetapi potensi jemaah dari Indonesia tertular penyakit berbahaya kayak MERS-CoV dan meningitis masih bisa terjadi.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Dr dr Eka Jusup Singka MSc bahkan menyebut potensinya itu justru sangat besar.

Baca juga : Istita’ah, Kunci Calon Jemaah Haji Terhindar dari Risiko Sakit di Tanah Suci

“Baik haji maupun Umrah, Indonesia memiliki risiko setiap hari, karena selalu ada yang pergi dan pulang. Umrah itu pulang setiap hari,” kata Eka Jusuf pada acara The 5th Global Health Security Agenda (GHSA) di Bali Nusa Dua Convention Center 2 pada Rabu, 7 November 2018.

Sama halnya seperti naik haji, minat umat muslim di Indonesia menunaikan ibadah umrah juga sangat besar. Menurut Eka Jusuf, jumlah orang yang pergi ke Arab Saudi untuk ‘naik haji kecil’ bisa mencapai 1 juta orang setiap tahunnya.

Potensi penularan penyakit pun menjadi sangat besar, lantaran pada saat itu berkumpulnya manusia dari seluruh penjuru dunia. Di saat yang bersamaan ada jemaah dari negara lain yang berpotensi membawa penyakit dari negara masing-masing.

“Umrah itu 7 hari, pulang. Atau 9 hari, pulang. Tapi jangan salah. Bukan berarti yang singat itu, kemudian enggak ada yang sakit. Ada yang sakit, ada yang dirawat,” kata dia.

Sampai saat ini saja, terang Eka Jusuf, Kementerian Kesehatan masih mendapatkan data mengenai jumlah jemaah Umrah asal Indonesia yang dirawat. Karena memang tenaga kesehatan haji dari Indonesia masih ada yang bertugas di Arab Saudi untuk mengawal permasalahan satu ini.

“Saat ini ada 6 orang jemaah Umrah kita yang dirawat di RS Arab Saudi. Inilah yang harus kita perhatikan mengenai umrah,” kata dia menekankan.

Sayangnya, sistem pendataan orang-orang yang memang layak diberikan izin berangkat ke Arab Saudi untuk ibadah umrah belum tertata seperti haji. “Tetapi dia wajib divaksin,” ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here