Liputan6.com, Jakarta – Walau disebut-sebut paling aman, namun bukan berarti perjalanan udara bebas risiko sama sekali. Terbukti dengan cukup banyaknya insiden pesawat terbang, terutama saat lepas landas dan hendak mendarat.

Dikutip dari planeandpilotmag.com, Kamis (8/11/2018), menurut David Palmerton, ahli Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat, 80 persen kecelakaan pesawat terjadi di waktu take-off dan landing, yakni tiga menit selama lepas landas dan delapan menit sebelum mendarat, yang juga dikenal sebagai critical eleven.

Di waktu-waku rentan tersebut, sangat mungkin terjadi error yang berbuah kecelakaan. Deretan insiden di waktu pesawat terbang lepas landas ini jadi contoh konkritnya. Apa saja penyebab insiden-insiden ini?

Tabrak Tiang

Kemarin, Rabu, 7 November 2018, sekitar pukul 18.20 WIB, pesawat Lion Air JT-633 rute Bengkulu-Jakarta mengalami insiden sayap kiri menabrak tiang lampu di depan ruang VVIP Bandara Fatmawati, Bengkulu. Hal ini sudah dibenarkan Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara (OBU) Wilayah VI, Agoes Soebagio.

143 penumpang langsung diturunkan kembali dan penerbangan mengalami keterlambatan dengan alasan keselamatan. Menurut Corporate Communications Strategic Lion Air, penumpang tetap diterbangkan malam itu dengan mendatangkan pesawat dari Jakarta.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Pukul 9.40 WIB pada 5 September 2005, Pesawat Boeing 737-200 milik Mandala Airlines jurusan Medan-Jakarta lepas ­landas dalam posisi tidak sempurna, lalu menabrak tiang listrik sebelum jatuh ke jalan dan menimpa rumah-rumah warga yang terletak sekira 100 meter dari Bandara Polonia.

Penumpang yang tewas berjumlah 102 orang, ­termasuk Gubernur Sumatra Utara waktu itu, Tengku Rizal Nurdin, dan dua anggota DPD Sumatera Utara Raja Inal Siregar, juga Abdul Halim Harahap. Sebanyak 47 warga di sekitar jatuhnya pesawat ­turut menjadi korban. Sedikitnya ada 17 penumpang pesawat yang dilaporkan ­selamat.

KNKT dengan tim investigasi National Transportation Safety Board dari Amerika Serikat menemukan, terdapat keru­sak­an yang menyebabkan salah satu mesin pesawat tersebut tidak bertenaga. Namun, masih diselidiki apakah kondisi itu sudah ada sebelum atau sesudah pesawat jatuh dan meledak.

Ada juga kesalahan pilot dalam mengatur alat penambah daya angkat pesawat saat lepas landas yang tidak turun, juga prosedur check list peralatan tidak sesuai persyaratan. Beberapa hari setelah kejadian, muncul laporan yang menyebut­, pesawat membawa kargo berupa durian yang berbobot 2 ton, sehingga hampir mencapai batas berat maksimum yang mampu diangkut pesawat.

Ditabrak truk air

Mobil pengangkut air milik maskapai Air India menabrak sebuah pesawat Qatar Airways yang sedang transit di Bandara Kolkata, India, Kamis, 1 November 2018. Pesawat dengan nomor penerbangan QR 540 dari Kolkata menuju Doha itu sudah siap lepas landas sesuai jadwal pada pukul 03.15 dini hari.

Dikutip dari uniindia, Kamis (8/11/2018), akibatnya, pesawat mengalami kerusakan yang memaksa kru Qatar Airways menurunkan penumpang dan menginapkan mereka di hotel karena penerbangan pengganti baru ada di malam harinya. Sebanyak 101 orang penumpang telantar di bandara Kolkata, India.

Meski tak ada korban luka, Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil (DGCA) memerintahkan penyelidikan soal penyebab peristiwa tersebut. Sejauh ini, dugaan utama adalah tak berfungsinya sistem pengereman truk pengangkut air.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here