Liputan6.com, Pandeglang – Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), sebuah tempat konservasi badak bercula satu dan hewan liar lainnya yang terletak di ujung barat Pulau Jawa, ternyata menyimpan lokasi-lokasi keindahan alam yang masih perawan.

Meski begitu tak banyak wisatawan mancanegara yang menginap di lokasi hutan kawasan Ujung Kulon guna menikmati eksotisme alam Indonesia, saat pagi hingga malam hari. Padahal banyak ‘surga’ tersembunyi di sini.

“Pemerintah harusnya mau terjun ke lapangan, melihat kondisi dan potensi wisata yang ada. Memperbaiki akses dan melengkapi sarana publik,” ucap Hudan selaku Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten, Rabu, 17 Mei 2017.

Dengan kano atau perahu panjang, pelancong dapat menikmati keindahan Sungai Cigenter di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. (Liputan6.com/Yandhi Deslatama)

Dia menyebutkan sekitar 12 ribu wisatawan domestik dan mancanegara yang masuk ke TNUK melalui wilayahnya. Wisatawan selalu ramai pada saat setiap hari libur akhir pekan maupun saat libur panjang guna menjelajahi luas lahan 122.956 hektare.

Dengan kano atau perahu panjang, pelancong dapat menikmati keindahan Sungai Cigenter di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. (Liputan6.com/Yandhi Deslatama)

“Pariwisata pada esensinya bagaimana melibatkan potensi masyarakat sebesar-besarnya. Saat ini pariwisata di Ujung Kulon belum maksimal memberdayakan masyarakat sekitar,” kata dia.

Pohon kiara raksasa berusia 100 tahun di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. (Liputan6.com/Yandhi Deslatama)

Hudan sangat berharap guna memaksimalkan segala potensi wisata di situs warisan dunia sejak 1991 ini, berbagai fasilitas harus segera dibenahi oleh pemerintah daerah maupun pusat. Misalnya, posko pusat informasi wisata, akses transportasi dan jalan, pelatihan bahasa asing bagi warga lokal hingga toilet umum yang memadai.

Pulau Peucang di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, dilihat dari ketinggian. (Liputan6.com/Yandhi Deslatama)

Selain itu, guna menciptakan lapangan pekerjaan dan menaikkan taraf ekonomi masyarakat sekitar, pemerintah pusat dan pengelola Balai Taman Nasional Ujung Kulon seharusnya juga memberdayakan warga setempat untuk menjadi pemandu lokal yang sangat memahami geografis wilayah tersebut.

Snorkeling di Legon Sumino kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. (Liputan6.com/Yandhi Deslatama)

“Selain pemerintah daerah, Balai TNUK pun seharusnya mengadakan pelatihan ekowisata untuk masyarakat sekitar, agar pesan konservasi menyeluruh dapat disampaikan kepada pengunjung,” kata Hudan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here