Jogja Senja

Liputan6.com, Garut – Tenggang rasa dan toleransi sudah berlangsung sejak Nusantara masih terdiri dari kerajaan-kerajaan. Salah satunya dipraktikkan Panembahan Senopati Arief Muhammad, panglima perang Kerajaan Mataram, saat menyebarkan agama Islam di kawasan Candi Cangkuang kini berdiri.

Candi Cangkuang merupakan salah satu candi Hindu tertua di pulau Jawa, ditemukan tim cagar Budaya Jawa Barat tahun 1966 di Garut. Candi ini diperkirakan dibangun pada abad VIII. Hal ini terlihat dari relief candi yang sangat sederhana.

Sementara, sang panglima masuk ke wilayah Kampung Pulo, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat, tiga abad silam. Saat itu, mayoritas penduduk beragama Hindu. Meski mengemban misi menyebarkan agama Islam, ia tetap menghormati kebiasaan warga setempat sehingga bisa hidup rukun berdampingan hingga akhir hayatnya.

“Buktinya beliau saat meninggal meminta agar dimakamkan di samping candi (Cangkuang) sebagai pelajaran bagi generasi selanjutnya,” ujar Umar, salah satu pemangku adat Kampung Pulo saat ditemui Jumat, 19 Mei 2017.

Menurut Umar, ajaran Arief Muhammad selaku muslim yang taat memberi banyak pelajaran yang mendasar untuk mewujudkan hidup rukun terhadap semua perbedaan. “Beliau mengajarkan Islam tapi tidak menyinggung kebiasaan masyarakat Cangkuang yang masih Hindu saat itu,” kata dia.

Salah satu wujud toleransi, Arief hanya menyebarkan agama Islam pada hari-hari tertentu, ketika warga sekitar tidak sedang menyembah Dewa Siwa yang berada di dalam Candi Cangkuang.

“Di sini ada pantangan tidak boleh beraktivitas (menyebarkan agama) pada Selasa malam hingga Rabu malam. Sebab dahulu, masyarakat sekitar pada saat itu hari terbaik untuk menyembah Dewa Siwa adalah hari Selasa atau malam Rabu,” tutur dia.

Sikap Arief Muhammad itu membuatnya sangat dihormati. Apalagi dengan status panglima perang yang tangguh, ia bisa menunjukkan kebijaksanaannya kepada warga dengan agama berbeda.

“Waktu itu beliau panglima perang yang tangguh tapi tidak sewenang-wenang terhadap warga sekitar memaksa untuk masuk Islam,” ujar salah satu generasi ke sembilan dari keturunan Arief Muhammad itu.

Makam Arief Muhamma kini masih sering diziarahi ribuan umat Muslim dan Hindu setiap tahun di kawasan Candi Cangkuang. Di dalam kawasan cagar budaya seluas tiga hektare itu, para pengunjung juga bisa menemukan banyak naskah kuno ajaran Islam, seperti Alquran dan kitab kuning yang tertulis rapi di atas kertas berbahan kayu tertata rapi.

Ada pula satu lukisan besar yang menggambarkan sosok Panembahan Arief Muhammad hingga serpihan batu purbakala bekas galian pertama Candi Cangkuang. “Intinya jangan mentang-mentang punya ilmu, jabatan dan pengaruh, seenaknya kepada orang lain, tapi sebaliknya kita harus tetap saling menghormati,” ujar Umar.

Saat berada di area cagar budaya Candi Cangkuang, tidak afdol jika tidak memasuki deretan rumah panggung yang berada tepat di pintu masuk pelataran candi. Deretan rumah itu merupakan kawasan Kampung Pulo.

Terdapat enam rumah panggung berdinding bilik warna putih serta satu bangunan musala dengan warna serupa yang merupakan simbol tujuh anak dari keturunan Panembahan Arief Muhammad.

“Anaknya beliau itu enam perempuan dan satu anak laki-laki. Sayang yang laki-laki tidak berusia panjang sebab meninggal saat masih anak-anak,” ujar Umar.

Dalam kepercayaan yang ia anut bersama anggota keluarga yang lain di kampung itu hingga kini, jumlah rumah tersebut tidak boleh berkurang atau bertambah meskipun generasi dari keturunan Arief Muhammad telah berkeluarga.

“Kepercayaannya seperti itu,” kata dia singkat.

Hingga kini, total anggota keluarga di kampung Pulo hanya berjumlah 23 orang yang terdiri dari 13 laki-laki dan 10 perempuan. “Makanya, dua minggu pasca-nikah anak-anaknya harus pindah, sementara orangtua tidak boleh pindah. Kecuali jika ada yang meninggal, maka anak perempuannya yang boleh menggantikan,” dia menjelaskan.

Dalam perkembangannya, seluruh keturunan Arief Muhammad terbuka terhadap perkembangan zaman. Mereka memiliki televisi, sepeda motor bahkan ponsel. “Tapi maaf saya sendiri tidak punya HP,” ujar dia tersipu.

Agar keturunannya mampu menjaga tradisi, ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar, seperti tidak boleh membuat rumah beratap ijuk, tidak boleh menabuh gong serta dilarang beternak hewan berkaki empat. “Karena itu ada hubungannya dengan Dewa Siwa,” ujarnya.

Iyan Maryan, salah satu wisatawan lokal asal Cikelet Garut, mengaku senang bisa membawa siswa didiknya untuk mengunjungi situs cagar budaya tersebut. “Sangat penting juga untuk mendidik anak agar hidup saling menghormati,” ujarnya.

Jika ingin menyerap hikmah dari cagar budaya yang mengajarkan toleransi beragama itu, datanglah ke Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Tiket masuknya hanya Rp 5.000 per orang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here