Liputan6.com, Garut – Jika anda berencana pelesir ke kawasan Candi Cangkung pagi ini, jangan lupa naik rakit yang berderet di kawasan Situ Cangkuang. Perahu yang terbuat dari bambu yang diikat itu bisa mengangkut 40 orang wisatawan sekali berlayar ke area candi tertua di Jawa Barat.

“Kalau perorangan bisa Rp 15 ribu (tarif angkut), tapi kalau berkelompok hanya Rp 100 ribu. Silahkan berapa pun (penumpang) asal rakitnya memungkinkan,” kata Dede Rahmat, salah seorang perakit yang tengah menurunkan pelajar di area situ Cangkuang, Sabtu, 20 Mei 2017.

Situ atau danau yang memisahkan kawasan Kampung Pulo area tempat Candi Cangkung dengan kokoh berdiri menjadi hiburan tersendiri bagi wisatawan yang datang. Kondisi air yang tenang dengan pemandangan bukit hijau di sekelilingnya, menjadikan area perlintasan seluas 15 hektare itu makin indah.

“Banyak juga yang berhenti dulu di tengah situ untuk foto-foto pemandangan,” ujarnya.

Penyewaan rakit, kata dia, mulai dibuka sekitar pukul 07.00 WIB dan berhenti sekitar pukul 17.00 WIB, disesuaikan dengan jadwal operasional kunjungan ke Candi Cangkuang. “Pengunjung malam nyaris tidak, paling sekali-kali ada yang ziarah,” kata dia.

Hingga kini, mayoritas pengunjung masih didominasi wisatawan lokal. Momen liburan sekolah dan maulid Nabi Muhammad SAW menjadi saat tersibuk para perakit yang hilir mudik membawa wisatawan. “Biasanya selain pelajar, juga para peziarah datang saat maulud tiba,” kata dia.

Ayi Juhana, salah satu wisatawan lokal asal kota Garut, sengaja mengarahkan murid didiknya untuk berwisata ke Candi Cangkuang. Selain mengajarkan sejarah mengenai Candi, mereka juga bisa berwisata air di sekitar situ.

“Anak-anak cukup senang, sebab ini pengalaman yang berharga,” ujarnya.

Ia berharap dengan pengalaman itu memberikan banyak pelajaran bagi pelajar, terlebih mengenai sikap intoleransi antarumat beragama yang saat ini tengah diuji. “Dulu saja sudah saling menghormati, buktinya makam orang Muslim bersebelahan dengan candi,” kata dia.

Tradisi Cari Ikan di Lumpur

Ada tradisi unik yang dipertahankan warga kawasan Situ Cangkuang. Tradisi turun temurun itu disebut ngagogo atau mencari ikan yang digiring oleh beberapa orang hingga terperangkap di sela-sela lumpur.

“Siapa pun boleh wisatawan pun kalau mau silahkan (ngagogo),” kata dia.

Dalam sekali menangkap ikan, seorang laki-laki yang bertindak sebagai ketua regu selalu membawa jaring untuk menggiring ikan, sementara ibu-ibu nampak serius menggerak-gerakan dan memukul tangannya di atas air dengan harapan memecah konsentrasi ikan hingga tersudutkan dan akhirnya terperangkap dalam lumpur Situ.

“Nah saat ikan di lumpur itulah, butuh keahlian tangkapan yang jitu agar ikan tidak lepas kembali,” ungkap dia.

Jika sedang mujur, hasil tangkapan yang didominasi ikan nila dan golsom itu bisa mencapai 3-4 kilogram. Hasil tangkapan itu kemudian dibagi rata dengan seluruh anggota tim yang ikut menangkap.

“Ya minimal dapat lah satu kilo untuk satu orang,” ujar Ohim, salah satu warga lainnya dengan tersenyum sambil melihat rekannya yang sedang menggiring ikan.

Ohim mengatakan tradisi ngagogo sudah berlangsung lama dan turun-temurun dilakukan warga Cangkuang. Sejak pendangkalan situ terus terjadi, mereka semakin sering menangkap ikan.

“Pengunjung pun bahkan banyak yang ikut, ya sekalian hiburan mungkin,” ujarnya.

Ia berharap dengan semakin surutnya air sungai, pengerukan lumpur situ bisa dilakukan pemerintah, hingga kini kedalaman situ hanya berkisar 1,5 meter jauh menyusut dari sebelumnya di atas tiga meter. Padahal, kedalaman situ sangat dibutuhkan ikan untuk berkembang biak.

“Kan kalau ikannya banyak, nangkapnya jadi semangat,” ujar dia.

Bagi anda yang tengah jalan-jalan di Garut dan berencana ke Candi Cangkuang, sepertinya tangkap ikan dengan cara ngagogo boleh dicoba sambil mandi lumpur. Mumpung belum ada pengerukan. Selamat mencoba.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here