Liputan6.com, Jakarta Nama Moeffreni Moe’min mungkin tidak begitu dikenal generasi milenial. Namun, militer berpangkat terakhir mayor ini memegang peran penting dalam peristiwa rapat raksasa IKADA (Ikatan Atletik Djakarta), sekarang menjadi Lapangan Monas, pada 19 September 1945. 

Rachmad Sadeli, pemeran Sukarno dalam rekonstruksi peristiwa Ikada di Lapangan Monas pada 19 September 1945, mengatakan, Moeffreni Moe’min punya peran krusial dalam peristiwa bersejarah tersebut. Bahkan, tanpa Moeffreni, tidak mungkin peristiwa Ikada bisa terjadi.

“Moefreni Moe’min sebagai Komandan BKR Jakarta Raya punya andil besar buat terciptanya suasana kondusif pada peristiwa Rapat Raksasa IKADA 19 September 1945. Bahkan untuk melindungi pemimpin besar Bung Karno pada peristiwa Rapat Raksasa IKADA 19 September 1945, Beliau siap pasang badan. Ia sudah menyiapkan granat di kantongnya, jika terjadi apa-apa dengan Bung Karno,” ujar Rachmad yang juga pendiri Pustaka Betawi.

Sementara itu, dihubungi melalui saluran telepon, Muhammad Guntur dari tim pengusul Moeffreni Moe’min sebagai pahlawan nasional mengatakan, Moeffreni Moe’min adalah tokoh fenomenal. “Beliau adalah tokoh panutan yang berjuang sejak merebut, mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan,” ujarnya, Kamis (8/11/2018)

Moeffreni Moe’min merupakan putra kelahiran Rangkasbitung, 12 Februari 1921. Moeffreni adalah putra dari Mohammad Moe’min, mantan wedana asli Betawi kelahiran Kwitang. Sebelum ikut pelatihan Barisan Pemuda ketika Jepang berkuasa, Moeffreni sempat menjadi wartawan dan menjadi pemimpin redaksi Majalah Pandu Jakarta terbitan Kepanduan Bangsa Indonesia.

Ketika Jepang berkuasa, Moeffreni ikut pelatihan Seinen Dojo atau Barisan Pemuda dan dilatih di Tangerang selama 6 bulan. Setelah lulus, ia  kembali masuk pendidikan perwira Pembela Tanah Air (PETA). Setelah itu Moeffreni melanglang buana jadi instruktur PETA ke berbagai daerah. Moeffreni pernah menjadi instruktur Renseitai di Cimahi, hingga Redentai di Magelang yang juga berbarengan dengan Zulkifli Lubis, Sarwo Edhi dan Ahmad Yani. Ia lantas jadi instruktur di berbagai tempat, pada 1944 Moeffreni menjabat di Daidan I PETA Jakarta dengan markas di Jaga Monyet.

Fase berikutnya, Moeffreni bergabung di Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang merupakan cikal bakal Tentara Keamanan Rakyat (kini TNI). Lantaran kecermelangannya dalam tugas, Moeffreni didaulat oleh Ketua BKR Pusat Kasman Singodimedjo, sebagai Ketua BKR Jakarta Raya. Ia  jadi panglima BKR Jakarta yang meliputi Jatinegara, Pasar Senen, Mangga Besar, Penjaringan dan Tanjung Priok. Hal ini membuat Presiden Ir Sukarno meminta Moeffreni melatih Barisan Pelopor.

Saat peristiwa masa revolusi (1945-1946), Moeffreni Moe’min menjadi Komandan Resimen Cikampek yang bertugas mengamankan wilayah perbatasan. Saat itu, ujar Guntur, tentara RI memang diperintahkan mengosongkan Ibu Kota. Di bawah kepemimpinan Moeffreni, ternjadi pertempuran di Front Timur Jakarta.

“Itulah yang kemudian menjadi inspirasi bagi lahirnya karya-karya Pramoedya Ananta Toer dan Chairil Anwar,” Guntur menambahkan.

Pengusulan Moeffreni Moe’min sebagai pahlawan nasional telah dilakukan tim yang bergerak dalam senyap selama kurang lebih dua tahun. Tim yang diketuai oleh Syahrofi, mantan Sekjen Lembaga Kebudayaan Betawi ini, mengaku telah mendapat persetujuan keluarga dan mengumpulkan data dari berbagai literasi maupun Pusat Tentara Republik Indonesia.

Proses pengajuannya pun sudah dilakukan mulai dari Dinas Sosial, Kementerian Sosial, hingga ke Dewan Gelar. Namun, keputusan pahlawan nasional sendiri merupakan hak prerogatif presiden.

Tahun ini, Moeffreni tak mendapatkan gelar Pahlawan Nasional dari pemerintah Republik Indonesia. Namun, itu tak membuat tim berkecil hati. Apalagi Guntur menganggap masih sangat sedikit pahlawan nasional yang berasal dari DKI Jakarta.

“Baru ada MH Thamrin, Ismail Marzuki, WR Soepratman, Pieter Tendean, Raden Saleh dan KH Noer Ali. Namun, meski pengusulannya dari DKI Jakarta, yang dari Betawi hanya MH Thamrin dan Ismail Marzuki. Adapun KH Noer Ali dari Bekasi,” ucap Guntur.

Tahun ini, enam tokoh yang akan mendapat gelar Pahlawan Nasional 2018, yaitu Depati Amir dari Bangka Belitung, Abdulrahman Baswedan dari DI Yogyakarta, Pangeran Muhammad Noor dari Banjarmasin (Kalimantan Selatan).

Kemudian, Kasman Singodimedjo dari Jawa Tengah, KH Sjam’un dari Banten, serta Ibu Agung (Hj. Andi Depu) dari Sulawesi Barat.

Moeffreni Moe’min bersama Usmar Ismail dan Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo telah diajukan pengusulannya sebagai pahlawan nasional dari DKI Jakarta, tapi belum disetujui pada tahun ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here