Liputan6.com, Jakarta – Facebook harus membayar mahal skandal penyalahgunaan data puluhan juta penggunanya. Untuk memastikan masalah serupa tidak terjadi lagi, perusahaan akan memberikan hadiah sebesar US$ 40 ribu atau setara Rp 541 juta (kurs Rp 12.518 per US$ 1) jika bisa “menangkap” orang-orang yang menyalahgunakan data di layanannya.

Dilancir CNBC, Minggu (15/4/2018), imbalan hadiah ini diberikan oleh Facebook melalui program Data Abuse Bounty, yang dirilis pada 10 April 2018. Facebook akan memberikan hadiah ratusan juta rupiah kepada orang-orang yang melaporkan penyalahgunaan data oleh pengembang aplikasi, seperti pada kasus Cambridge Analytica.

Pelapor bisa mendapatkan hadian mulai dari US$ 500 dan lebih dari US$ 40 ribu untuk penyalahgunaan data besar. Program laporan penyalahgunaan data semacam ini merupakan kali pertama terjadi.

“Ini akan membantu kami menemukan kasus-kasus penyalahgunaan data yang tidak berkaitan dengan kerentanan keamanan. Ini akan membantu menemukan lebih banyak kasus seperti Cambridge Analytica, sehingga kami bisa mengetahuinya lebih dahulu dan mengambil tindakan,” ungkap Chief Security Offier Facebook, Alex Stamos, kepada CNBC.

Kasus-kasus yang disampaikan kepada Facebook dan dilengkapi dengan bukti akan diperiksa oleh tim bug dan penyalahgunaan data perusahaan. Kemudian, Facebook akan menginvestigasi laporan dan memutuskan langkah yang akan diambil.

Para pelaku penyalahgunaan data akan menghadapi berbagai kemungkinan hukuman, termasuk penutupan aplikasi, digugat ke pengadilan, atau Facebook akan melakukan penyelidikan secara langsung.

Facebook sendiri saat ini memiliki 10 orang di dalam tim tersebut, tapi berencana menambah jumlahnya dan melibatkan berbagai tim lain untuk melakukan peyelidikan lebih lanjut.

Untuk memenuhi persyaratan agar bisa mendapatkan hadiah, kasus yang dilaporkan setidaknya harus melibatkan 10 ribu pengguna, menunjukkan bagaimana data disalahgunakan dan Facebook belum pernah mengetahui masalah tersebut sebelumnya.

“Pintu selalu terbuka jika whistleblower ingin mengungkapkan ada sesuatu yang kurang jelas di sini,” kata Kepala Keamanan Produk Facebook, Collin Greene.

Adapun Facebook mengumumkan niatnya merilis program berhadiah untuk laporan penyalahgunaan data ini pada akhir Maret, menyuusul skandal Cambridge Analytica. Namun, baru dirilis pada bulan ini.

Seperti diketahui sebelumnya, Cambridge Analytica menyalahgunakan data sekitar 87 juta pengguna Facebook untuk kepentingan komersial, termasuk Pemilihan Presiden (Pilpres) AS pada 2016. Cambridge Analytica dan pencipta aplikasi yang mengumpulkan data pengguna, Aleksandr Kogan, menolak tuduhan tersebut.

Program berhadiah laporan penyalahgunaan Facebook sendiri berdasarkan pada program hadian bug yang dimiliki perusahaan. Facebook memberikan hadiah rata-rata lebih dari US$ 1 juta setiap tahun untuk program tersebut.

Indonesia merupakan salah satu negara yang menjadi korban penyalahgunaan data Facebook oleh Cambridge Analytica. Data 1 jutaan pengguna di Indonesia disalahgunakan, tapi sampai saat ini belum ada rincian laporan mengenai hal tersebut.

Negara-negara lain yang juga menjadi korban adalah Amerika Serikat, Filipina, Inggris, Meksiko, Kanada, India, Brasil, Vietnam, dan Australia. Namun, Facebook mengaku tidak tahu rincian data yang diambil dan jumlah pasti akun yang menjadi korban.

“Total, kami yakin informasi dari 87 juta orang di Facebook, sebagian besar di AS, telah dibagikan secara tidak layak dengan Cambridge Analytica,” tulis Facebook dalam keterangan resminya.

(Din/Isk)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here