SLEMAN, KRJOGJA.com – Tim peneliti UGM yang tergabung dalam grup riset CIMEDs (Centre for Innovation of Medical Equipment and Devices) menyerahkan bantuan kepada Tim Relawan dari RSUP Sardjito berupa alat bantu implant penyambung untuk para korban gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala, pada Rabu(3/10/2018) di Gedung Teknik Mesin UGM. 

Menurut Dr. Suyitno, ST, M.Sc yang merupakan ketua dari tim riset mengatakan alat ini merupakan alternatif dari implant penyambung yang selama ini selalu di impor dari luar negeri. Menurutnya, dengan memproduksi implant penyambung secara mandiri hal itu dapat menekan biaya dan waktu ketersediaan barang terutama untuk saat-saat darurat seperti bencana alam.

Suyitno menjelaskan ada 100 alat yang akan disumbangkan kepada para korban gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala. Selanjutnya bila dirasa masih membutuhkan, grup riset CIMEDs siap untuk mengirimkan tambahan. “Sudah disiapkan total 500 buah implant penyambung, untuk saat ini kita kirimkan 100 buah terlebih dahulu. Bila nantinya membutuhkan lebih kami akan kirim bantuan tambahan,” ujar Suyitno.

Suyitno mengatakan Grup riset yang juga bekerjasama dengan peneliti dari bagian Ortopedi dan Traumatology RSUP Sardjito telah menguji alat bantu implant penyambung ini, sehingga sudah memiliki standar ISO untuk kualitas dari alat tersebut dan sudah layak untuk digunakan atau dipasangkan kepada pasien. Selain alat bantu implant penyambung, grup riset CIMEDs juga telah menyiapkan kaki palsu yang siap disumbangkan bila nanti dibutuhkan.  “Selain implant penyambung, CIMEDs juga telah menyiapkan kaki palsu apabila nanti dibutuhkan,” ucap Suyitno.

Tim relawan dokter bedah ortopedi RSUP Dr Sardjito rencananya akan dimajukan keberangkatannya menjadi malam ini, setelah sebelumnya dijadwalkan akan diberangkatkan Kamis (4/10/2018). Tim relawan yang diberangkatkan telah menyiapkan semua kebutuhan medis yang berkaitan dengan penanganan luka, trauma, dan operasi patah tulang. 

“Rencana kami dalam satu minggu menyiapkan untuk 70 kali tindakan operasi bedah tulang. Tapi jumlah itu masih kondisional bagaimana di lapangan nanti,” ujar dr. Yuniarta Prabowo, Sp.OT salah satu perwakilan dari tim relawan medis yang menerima penyerahan alat bantu.

Kedepannya alat bantu implant yang telah dikembangkan oleh grup riset CIMEDs ini dapat diproduksi secara massal, dan dapat lolos dalam urusan adminisitrasi dari  instansi kesehatan terkait. Sebab Suyitno mengakui bila kendala selama proses riset hingga pembuatan alat terletak pada urusan administrasi yang termasuk ketat dan sulit. (Faris Fikri)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here